Pribumi. co. id Pangkep — Langit senja bernuansa keemasan seolah menjadi penanda: bulan suci telah tiba. Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi datang membawa hening yang menenangkan, sekaligus harapan yang menguatkan. Di momen penuh berkah ini, tokoh pengusaha dan olahraga Kabupaten Pangkep, Muhammad Rusli AB, menyampaikan ucapan yang hangat dan menyentuh hati masyarakat.
“Marhaban ya Ramadan. Selamat menunaikan ibadah puasa,” ucapnya, dengan pesan yang tak sekadar formalitas, tetapi mengalir sebagai ajakan: memperdalam iman, memperluas kepedulian, dan mempererat persaudaraan.
Bagi Muhammad Rusli AB, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang perenungan. Ia adalah waktu untuk membersihkan niat, merapikan langkah, dan menyatukan kembali hati yang mungkin sempat berjauhan.
Dikenal sebagai Ketua Harian Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) Sulawesi Selatan, Ketua ASKAB PSSI Kabupaten Pangkep, Ketua GRIB Jaya Kabupaten Pangkep, Ketua IKA SMA Negeri 3 Pangkep, serta Koordinator Petani Gaul Kabupaten Pangkep, Rusli menempatkan Ramadan sebagai titik temu antara nilai spiritual dan gerak sosial.
“Ramadan adalah energi kebaikan,” ungkapnya. “Energi untuk keluarga, untuk lingkungan kerja, untuk organisasi, dan untuk daerah yang kita cintai.” ujarnya pada rabu (18/2/2026).
Dalam pandangannya, puasa melatih disiplin; zakat menumbuhkan empati; dan silaturahmi memperkuat fondasi kebersamaan. Ketiganya adalah modal sosial yang tak ternilai dalam membangun Pangkep dan Sulawesi Selatan yang lebih kokoh dan harmonis.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat pengusaha, petani, pemuda, insan olahraga, hingga aparatur—untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum kolaborasi. Bukan hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperkuat solidaritas dan optimisme di tengah dinamika ekonomi dan sosial.
Ramadan, kata Rusli, adalah tentang menyalakan cahaya dari dalam diri. Cahaya yang kemudian menyinari sekitar. Dari masjid ke rumah, dari lapangan olahraga ke ruang usaha, dari desa hingga pusat kota.
Di bulan yang suci ini, ia berharap masyarakat Pangkep dan Sulawesi Selatan menjalani puasa dengan penuh khusyuk, menjaga persatuan, serta terus menebar manfaat.
Sebab pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar datang dan pergi. Ia adalah jeda yang menguatkan. Ia adalah napas yang menenangkan. Ia adalah janji untuk menjadi pribadi dan masyarakat yang lebih baik dari hari kemarin.








