Bahaya Terima Serangan Fajar, Dosanya Dibawa Mati

  • Bagikan
Ilustrasi money politik. (Dok: Ist)

PRIBUMI.co.id, Khazanah – Pemilu nasional maupun daerah kerap menjadi lahan basah dalam praktik jual-beli suara. Politik uang mendominasi strategi kampanye elektoral di Indonesia untuk memenangkan calon yang bakal menduduki posisi sebagai pemimpin politik.

Jual beli suara itu juga disebut dengan istilah ‘serangan fajar’. Muslim terkadang lupa, dana yang diterima tersebut adalah uang haram.

Ustad Das’ad Latif dalam sebuah ceramahnya, mengatakan, serangan fajar yang diterima dapat membuat seorang Muslim mengkonsumsi makanan dan minuman haram.

“Hati-hati, bapak ibu yang sering menerima uang suap Pilkada (serangan fajar-red), itu salah satu penyebab bapak ibu tidak bisa salat khusyuk dan doa tidak diijabah oleh Allah SWT,” pesan Ustad Das’ad.

Lanjut Das’ad, uang serangan fajar itu paling banyak Rp300 ribu, nilai itu akan habis dibelanja dalam sehari, namun dosanya dibawa sampai ke liang lahat.

“Berapa kita dapat kalau Pilkada, paling Rp300 ribu, satu hari makan bakso dengan teman-temannya uang itu sudah habis. Tapi demi Allah, dosanya dibawa sampai mati, dan berbekas dalam hati penerima uang haram tersebut,” kata Das’ad.

Ia pun mengimbau, jika ingin memajukan bangsa Indonesia, warga harus berani merekam orang yang membawa uang jual beli suara tersebut untuk dilaporkan ke Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakumdu).

“Kalu mau memajukan bangsa Indonesia. Kalau ada yang datang bawa beras atau bawa sogokan, kalau bapak ibu mau membantu anak-anaknya agar juga menikmati pemimpin yang baik, maka caranya rekam (pembawa money politik) itu, kemudian bawa ke Polisi (Gakumdu),” terang Ustad yang kerap menghibur jamaah saat menyajikan materi dakwah.

Dikatakan pula, efek memilih pemimpin yang menempuh jalan money politik, akan melahirkan pemimpin yang tidak mensejahterakan rakyat.

“Efeknya terpilih pemimpin yang bukan mensejahterakan rakyatnya, tapi bagaimana kembali modal (korupsi),” ujar Das’ad dengan ciri khas dakwahnya yang ringan.

Ia kembali mengingatkan, salah satu pemyebab doa tidak diterima Tuhan, hati keras, tidak bisa khusyuk karena senang makan uang haram.

“Bahkan uniknya, ada warga yang menulis di depan rumahnya ‘siap menerima serangan fajar, 7 suara, 1 sura Rp200 ribu, mohon maaf keras kehidupan,” kata Das’ad yang diiringi tawa jamaah.

Saat itu, ia juga mengimbau calon pemimpin untuk mendidik rakyat tentang politik bersih dengan jalan menyampaikan visi dan misi.

“Nah, kepada juga calon wali kota, calon wakil wali kota, didik rakyat melalui politik bersih, jangan sogok mereka, sampaikan saja apa visi dan misimu, sampaikan juga apa janji yang akan kau lakukan untuk mensejahterakan rakyat,” pinta Ustad Das’ad.

Ia pun mengingatkan calon kepala daerah, jika sudah menempuh cara yang baik, namun tidak terpilih, maka kata Das’ad, itulah yang terbaik dari Allah.

Penulis: Dg Marala

  • Bagikan